AS dan Israel Luncurkan "Operation Lion’s Roar", Pemimpin Tertinggi Iran Tewas

 Pengkaji: Ilham Restu Prasetya


Presiden AS, Donald Trump (kanan), Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu (tengah) dan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei (kiri). (Gemalantang.com/ynet)

Senin, 28 Februari 2026, Amerika Serikat bersama Israel secara resmi melancarkan operasi militer gabungan bertajuk Operation Lion’s Roar yang menyasar sejumlah fasilitas pertahanan dan pusat komando strategis di Teheran serta beberapa wilayah lain di Iran. Serangan tersebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, bersama sejumlah pejabat tinggi negara.

Kementrian kesehatan Iran mencatat sedikitnya 201 orang meninggal dunia dan lebih dari 700 lainnya mengalami luka-luka. Selain instalasi militer, beberapa titik di sekitar area strategis turut terdampak. Peristiwa ini bukan hanya menciptakan guncangan politik di dalam negeri Iran, tetapi juga memperbesar risiko konflik di kawasan Timur Tengah.

Alasan Dibalik Penyerangan

Pemerintah Amerika Serikat menyatakan bahwa operasi tersebut dilakukan untuk menghentikan penguatan kapasitas militer Iran, terutama yang dikaitkan dengan pengembangan rudal dan program nuklir. Presiden AS Donald Trump menilai langkah ini sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas regional dan melindungi kepentingan sekutu Amerika di Timur Tengah.

Israel, yang selama ini memandang Iran sebagai ancaman utama, mendukung penuh tindakan tersebut. Menurut pernyataan resmi, serangan dilakukan setelah evaluasi keamanan menunjukkan bahwa peningkatan aktivitas militer Iran dinilai berisiko bagi keamanan kawasan. Namun, Iran membantah tuduhan tersebut dan menyebut serangan itu sebagai agresi sepihak yang melanggar kedaulatan negara serta prinsip hukum internasional.

Respons Pemerintah dan Situasi Dalam Negeri Iran

Beberapa jam setelah serangan pertama, Iran meluncurkan rudal balistik dan drone ke wilayah Israel, termasuk Tel Aviv, serta ke pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk. Serangan balasan ini menyebabkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur, sekaligus memperluas ketegangan menjadi konflik yang lebih terbuka.

Di dalam negeri, wafatnya Ayatollah Khamenei memicu dinamika politik baru. Pemerintah menetapkan masa berkabung nasional dan meningkatkan pengamanan di berbagai kota besar. Otoritas militer menyatakan Iran tidak akan tinggal diam dan tengah mempertimbangkan langkah lanjutan.

Reaksi Dunia Internasional dan PBB

Perkembangan ini segera menjadi perhatian dunia internasional. Perserikatan Bangsa-Bangsa menyerukan penahanan diri dan mendorong semua pihak kembali ke jalur diplomasi. Sejumlah negara Eropa menyampaikan kekhawatiran bahwa peperanganini dapat memperburuk stabilitas kawasan yang selama ini sudah rapuh.

Negara-negara di kawasan Teluk meningkatkan kewaspadaan keamanan, sementara para pengamat menilai posisi Amerika Serikat sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB dengan hak veto dapat memengaruhi dinamika respons internasional terhadap konflik ini.

Dampak Global dan Implikasi bagi Indonesia

Konflik tersebut turut mengguncang pasar energi global. Kekhawatiran terhadap gangguan distribusi minyak melalui Selat Hormuz jalur strategis bagi perdagangan energi dunia mendorong kenaikan harga minyak internasional. Harga emas juga menguat seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik.

Selain sektor energi, gangguan penerbangan di kawasan Timur Tengah berdampak pada mobilitas internasional. Sejumlah maskapai membatalkan atau mengalihkan rute penerbangan yang melintasi wilayah konflik.

Bagi Indonesia, dampak paling mungkin terasa pada sektor ekonomi, khususnya impor energi dan stabilitas harga bahan bakar dalam negeri. Kenaikan harga minyak dunia berpotensi memengaruhi biaya logistik dan inflasi, sementara gangguan penerbangan dapat berdampak pada perjalanan jamaah haji dan umrah.

Pada akhirnya, operasi militer yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran ini tidak hanya menjadi persoalan antara tiga negara, tetapi juga menempatkan stabilitas kawasan dan tatanan global dalam situasi yang penuh ketidakpastian. Dunia kini menanti apakah eskalasi ini akan terus meluas atau kembali diarahkan menuju diplomasi.


Daftar Pustaka

AFP. (2026, 28 Februari). US–Israel launch joint strikes on Iran amid rising regional tensions.

Reuters. (2026, 28 Februari). Iran reports casualties after coordinated US–Israel air operation.

Al Jazeera. (2026, 1 Maret). Iran vows retaliation after Supreme Leader killed in attack.

BBC News. (2026, 1 Maret). Global reaction grows following US–Israel strikes on Iran.

United Nations Office of the High Commissioner for Human Rights (OHCHR). (2026, 28 Februari). Statement by UN Human Rights Chief on military escalation in Iran.

Kementerian Perhubungan Republik Indonesia. (2026, 2 Maret). Pernyataan resmi terkait gangguan penerbangan internasional akibat konflik Timur Tengah.

Reuters. (2026, 4 Maret). Oil and gold prices surge amid Middle East escalation.


Komentar