Selat Hormuz Panas, Harga Cabai Ikut Pedas: Hubungan Rahasia Konflik Dunia & Dapur Kita


Pengkaji: Putri Harnas Khoirunnisa

Penutupan Jalur Energi Dunia. Inilah.com (2026).

Setiap memasuki bulan Ramadan hingga menjelang Hari Raya Idulfitri, masyarakat Indonesia hampir selalu dihadapkan pada fenomena yang sama: harga kebutuhan pokok perlahan mulai merangkak naik. Mulai dari cabai, bawang, hingga sejumlah bahan pangan lainnya mulai mengalami lonjakan yang cukup terasa di pasar. Bagi sebagian orang, kondisi ini sering dianggap sebagai siklus tahunan akibat meningkatnya konsumsi masyarakat menjelang hari besar keagamaan. Namun, kenaikan harga yang terjadi kali ini tidak sepenuhnya disebabkan oleh faktor musiman semata. Di balik naiknya harga bahan pokok di pasar, terdapat dinamika ekonomi global yang turut memberi tekanan terhadap rantai pasokan dan biaya distribusi pangan.           

Kenaikan Harga Bahan Pokok Menjelang Lebaran

Menjelang Hari Raya Idulfitri, Tradisi mudik, meningkatnya mobilitas masyarakat, serta lonjakan konsumsi rumah tangga membuat permintaan terhadap berbagai komoditas pangan meningkat secara signifikan. Aktivitas ekonomi yang lebih padat menjelang lebaran tersebut secara alami mendorong harga sejumlah bahan pangan mengalami kenaikan. Namun, kondisi yang terjadi tahun ini terasa sedikit berbeda. Kenaikan harga bahan pokok tidak hanya dipicu oleh faktor musiman, tetapi juga oleh tekanan eksternal yang datang dari dinamika ekonomi global. Kombinasi antara meningkatnya permintaan domestik dan tekanan dari sisi biaya distribusi membuat harga pangan melonjak lebih tinggi dari biasanya.

Dilansir dari data tim pengendalian inflasi daerah, kenaikan bahan pokok menjelang lebaran tahun ini paling terasa pada komoditas cabai merah. Dalam kondisi normal, harga komoditas cabai berada kisaran harga Rp65.000/kg. Namun saat ini harga cabai rawit merah mencapai Rp100.000/kg. Fenomena ini menunjukkan bahwa kenaikan harga tidak hanya dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan, tetapi juga oleh faktor lain yang berasal dari luar negeri.

Dinamika Global: Krisis Energi dan Dampak Berantainya

Disaat yang sama, kondisi geopolitik dunia sedang tidak baik-baik saja. Baru-baru ini, geopolitik di Timur Tengah mencapai titik didih yang melibatkan Amerika Serikat, Israel dan Iran dengan tertutupnya jalur Selat Hormuz. Hal ini mungkin tampak sebagai permasalahan politik luar negeri yang jauh di sana, namun dampak yang dihasilkan memberikan efek langsung di dapur kita. Ketegangan yang terjadi merupakan bentuk ancaman global, dimana Selat Hormuz sendiri adalah urat nadi utama distribusi energi dunia. Selat Hormuz sendiri merupakan perairan sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab, yang memisahkan Iran dengan Oman serta Uni Emirat Arab. Lebih dari 20% minyak global dan ekspor gas alam cair melewati selat ini.

Terganggunya rantai pasokan dunia ini secara otomatis memicu lonjakan harga minyak mentah yang signifikan. Bayangkan, harga minyak mentah Brent telah merangkak naik 0,7% dengan harga berkisar $88,39 per barel, ini menjadi sebuah alarm bagi stabilitas ekonomi. Kenaikan ini membawa dampak domino yang tak terelakkan terhadap biaya logistik, mengingat bahan bakar minyak adalah jantung dari transportasi. Pembengkakan biaya angkut pun terjadi mulai dari lini petani hingga ke tangan konsumen di pasar, pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas. Ibrahim Assuaibi memperkirakan harga minyak mentah berpeluang kembali naik hingga menyentuh harga $130 per barel. Fenomena ini menuntut kesadaran kolektif kita bahwa setiap pergerakan harga di pasar global pada akhirnya akan menyentuh aspek paling mendasar dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

Apakah harga BBM Indonesia akan naik?

Kenaikan harga minyak dunia menjadi ancaman langsung bagi struktur biaya energi di dalam negeri, mengingat besarnya angka impor minyak Indonesia. Indonesia mengimpor sekitar 1 juta barel minyak per hari untuk memenuhi kebutuhan konsumsi nasional yang mencapai 1,5 juta barel. Ketergantungan ini membuat fluktuasi harga minyak dunia sangat berpengaruh terhadap kebijakan energi domestik. Terhitung mulai 1 Maret 2026, PT Pertamina telah menaikkan harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax menjadi Rp12.300/liter dan Pertamax Turbo mengikuti fluktuasi pasar global. Pemerintah melalui Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memberikan jaminan bahwa harga Pertalite dan Biosolar akan tetap dipertahankan untuk sementara guna menjaga daya beli masyarakat, jika harga minyak dunia menetap di atas $80 per barel, pemerintah harus menanggung selisih harga yang sangat besar karena asumsi APBN 2026 hanya mematok harga minyak di level $70.

Dampak Berantai: Dari Global ke Dapur Rumah Tangga

Kenaikan harga energi pada akhirnya menimbulkan efek domino yang luas terhadap aktivitas ekonomi. Biaya bahan bakar yang meningkat akan langsung berdampak pada biaya transportasi dan distribusi barang, termasuk bahan pangan. Bagi sektor pertanian dan perdagangan, kenaikan biaya logistik berarti harga produk yang sampai ke pasar akan menjadi lebih mahal. Mulai dari proses pengangkutan hasil panen, distribusi antar daerah, hingga pengiriman ke pasar tradisional, semuanya bergantung pada energi sebagai penggerak utama. Akibatnya, masyarakat sebagai konsumen akhir merasakan dampak paling nyata melalui kenaikan harga bahan pokok. Fenomena ini menunjukkan bahwa pergerakan ekonomi global sebenarnya memiliki keterkaitan yang erat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat, bahkan hingga ke meja makan di rumah.

Antisipasi Kebijakan dan Stabilitas Ekonomi

Melihat potensi dampak yang semakin luas, pemerintah perlu menyiapkan langkah antisipatif agar penyesuaian harga energi tidak memberikan tekanan berlebih terhadap daya beli masyarakat. Stabilitas pasokan energi dan efisiensi distribusi pangan menjadi faktor penting dalam menjaga keseimbangan ekonomi domestik, terutama menjelang periode konsumsi besar seperti Idulfitri. Selain itu, pemerintah juga perlu memperkuat komunikasi publik terkait kondisi ekonomi global dan kebijakan yang diambil. Transparansi informasi menjadi penting agar masyarakat dapat memahami situasi yang terjadi dan tidak menimbulkan kepanikan di tengah dinamika harga yang sedang berlangsung. Pemantauan terhadap perkembangan harga energi dan bahan pangan juga harus terus dilakukan secara intensif agar stabilitas ekonomi masyarakat tetap terjaga selama periode hari raya maupun setelahnya.


Daftar Pustaka

Albert Gustian. 2026. “Dampak Selat Hormuz Terhadap Harga BBM Dan Ekonomi Nasional Di Tengah Konflik Timur Tengah.” https://blog.amikom.ac.id/dampak-selat-hormuz-terhadap-harga-bbm-dan-ekonomi-nasional-di-tengah-konflik-timur-tengah/.

Anto Kurniawan. 2026. “Dampak Berantai Kenaikan Harga BBM Menjelang Lebaran 2026 Jadi Sorotan.” https://ekbis.sindonews.com/read/1685099/34/dampak-berantai-kenaikan-harga-bbm-menjelang-lebaran-2026-jadi-sorotan-1773050590.

Britannica. 2026. “Strait of Hormuz.” https://www.britannica.com/place/Strait-of-Hormuz.

Indonesia, CNBC. 2026. “7 Dampak Terkini Perang Iran Ke Dunia: Harga Minyak-Pembatasan BBM.” https://www.cnbcindonesia.com/news/20260310102332-4-717586/7-dampak-terkini-perang-iran-ke-dunia-harga-minyak-pembatasan-bbm.

kompas.com. 2026. “Mengapa Harga Bahan Pokok Cenderung Naik Jelang Lebaran?” https://www.kompas.com/tren/read/2026/03/14/180000665/mengapa-harga-bahan-pokok-cenderung-naik-jelang-lebaran-?page=1.

KONTAN.CO.ID. 2026. “Harga Minyak: Potensi Melonjak Ke US$ 130, Waspada Konflik Timur Tengah!” https://newssetup.kontan.co.id/news/harga-minyak-potensi-melonjak-ke-us-130-waspada-konflik-timur-tengah#:~:text=Potensi Lonjakan Harga Hingga US,proyeksi tersebut masih bersifat spekulatif.

Riza Aslam Khaeron. 2026. “Selat Hormuz Ditutup, Apa Dampaknya Bagi Perekonomian Dunia?” https://www.metrotvnews.com/read/NLMC82WA-selat-hormuz-ditutup-apa-dampaknya-bagi-perekonomian-dunia.

 

 

 

 

 

 

Komentar