Pengkaji: Putri Harnas Khoirunnisa
Setiap memasuki bulan Ramadan hingga menjelang Hari Raya Idulfitri,
masyarakat Indonesia hampir selalu
dihadapkan pada fenomena yang sama: harga kebutuhan pokok perlahan mulai merangkak naik. Mulai dari cabai, bawang, hingga
sejumlah bahan pangan lainnya mulai mengalami lonjakan yang cukup terasa di pasar. Bagi sebagian orang, kondisi ini
sering dianggap sebagai siklus
tahunan akibat meningkatnya
konsumsi masyarakat menjelang hari besar keagamaan. Namun, kenaikan
harga yang terjadi kali ini tidak
sepenuhnya disebabkan oleh faktor musiman semata. Di balik naiknya harga bahan pokok di
pasar, terdapat dinamika
ekonomi global yang turut memberi tekanan terhadap rantai pasokan dan
biaya distribusi pangan.
Kenaikan Harga Bahan Pokok
Menjelang Lebaran
Menjelang Hari
Raya Idulfitri, Tradisi mudik,
meningkatnya mobilitas masyarakat, serta lonjakan konsumsi rumah tangga membuat
permintaan terhadap berbagai komoditas pangan meningkat secara signifikan. Aktivitas
ekonomi yang lebih padat menjelang lebaran tersebut secara
alami mendorong harga
sejumlah bahan pangan mengalami
kenaikan. Namun, kondisi yang terjadi tahun ini terasa
sedikit berbeda. Kenaikan harga bahan pokok tidak hanya dipicu oleh faktor musiman, tetapi
juga oleh tekanan
eksternal yang datang dari dinamika ekonomi global. Kombinasi antara
meningkatnya permintaan domestik dan tekanan dari sisi biaya distribusi membuat
harga pangan melonjak
lebih tinggi dari biasanya.
Dilansir dari data tim pengendalian inflasi
daerah, kenaikan bahan pokok menjelang lebaran tahun ini paling terasa pada komoditas cabai merah. Dalam kondisi normal, harga komoditas cabai berada kisaran
harga Rp65.000/kg. Namun saat ini harga cabai rawit merah mencapai
Rp100.000/kg. Fenomena ini menunjukkan bahwa kenaikan harga tidak hanya dipengaruhi
oleh meningkatnya permintaan, tetapi juga oleh faktor lain yang berasal dari
luar negeri.
Dinamika
Global: Krisis Energi dan Dampak Berantainya
Disaat yang sama, kondisi geopolitik dunia sedang tidak
baik-baik saja. Baru-baru ini, geopolitik di Timur Tengah mencapai titik didih yang melibatkan
Amerika Serikat, Israel dan Iran dengan tertutupnya jalur Selat Hormuz. Hal ini mungkin
tampak sebagai permasalahan politik luar negeri yang jauh di sana, namun dampak
yang dihasilkan memberikan efek langsung di dapur kita. Ketegangan yang terjadi
merupakan bentuk ancaman
global, dimana Selat Hormuz sendiri adalah urat nadi utama distribusi energi dunia. Selat
Hormuz sendiri merupakan perairan sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan
Teluk Oman dan Laut Arab, yang memisahkan Iran dengan Oman serta Uni Emirat
Arab. Lebih dari 20%
minyak global dan ekspor gas alam cair melewati selat ini.
Terganggunya rantai pasokan dunia ini secara otomatis
memicu lonjakan harga
minyak mentah yang signifikan. Bayangkan, harga minyak mentah Brent
telah merangkak naik 0,7%
dengan harga berkisar $88,39 per barel, ini menjadi sebuah alarm bagi
stabilitas ekonomi. Kenaikan ini membawa dampak domino yang tak terelakkan
terhadap biaya logistik, mengingat bahan bakar minyak adalah jantung dari transportasi.
Pembengkakan biaya angkut pun
terjadi mulai dari lini petani hingga ke tangan konsumen di pasar,
pengamat ekonomi, mata uang, dan
komoditas. Ibrahim
Assuaibi memperkirakan harga minyak mentah berpeluang kembali naik hingga menyentuh harga $130 per barel. Fenomena ini menuntut kesadaran kolektif kita bahwa
setiap pergerakan harga di pasar global pada akhirnya akan menyentuh aspek
paling mendasar dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Apakah
harga BBM Indonesia akan naik?
Kenaikan harga minyak dunia menjadi ancaman langsung bagi
struktur biaya energi di dalam negeri, mengingat besarnya angka impor minyak
Indonesia. Indonesia mengimpor sekitar 1 juta barel minyak per hari untuk memenuhi kebutuhan konsumsi
nasional yang mencapai 1,5 juta barel. Ketergantungan
ini membuat fluktuasi harga minyak dunia sangat berpengaruh terhadap kebijakan
energi domestik. Terhitung
mulai 1 Maret 2026, PT Pertamina
telah menaikkan harga BBM
nonsubsidi seperti Pertamax menjadi Rp12.300/liter dan Pertamax Turbo mengikuti
fluktuasi pasar global. Pemerintah melalui Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memberikan jaminan
bahwa harga Pertalite dan
Biosolar akan tetap dipertahankan untuk sementara guna menjaga daya beli
masyarakat, jika
harga minyak dunia menetap di atas $80 per barel, pemerintah harus menanggung
selisih harga yang sangat besar karena asumsi APBN 2026 hanya mematok harga
minyak di level $70.
Dampak
Berantai: Dari Global ke Dapur Rumah Tangga
Kenaikan
harga energi pada akhirnya menimbulkan efek domino yang luas terhadap aktivitas
ekonomi. Biaya bahan bakar
yang meningkat akan langsung berdampak pada biaya transportasi dan distribusi barang,
termasuk bahan pangan. Bagi sektor pertanian dan perdagangan, kenaikan biaya logistik
berarti harga produk
yang sampai ke pasar akan menjadi lebih mahal. Mulai dari proses pengangkutan hasil panen,
distribusi antar daerah, hingga pengiriman ke pasar tradisional, semuanya
bergantung pada energi sebagai penggerak utama. Akibatnya, masyarakat
sebagai konsumen akhir merasakan dampak paling nyata melalui kenaikan harga bahan pokok. Fenomena
ini menunjukkan bahwa pergerakan
ekonomi global sebenarnya memiliki keterkaitan yang erat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat, bahkan
hingga ke meja makan di rumah.
Antisipasi Kebijakan dan Stabilitas
Ekonomi
Melihat potensi dampak yang semakin luas, pemerintah perlu menyiapkan
langkah antisipatif agar penyesuaian harga energi tidak memberikan tekanan
berlebih terhadap daya beli masyarakat. Stabilitas pasokan energi dan efisiensi distribusi pangan
menjadi faktor penting dalam menjaga keseimbangan ekonomi domestik, terutama
menjelang periode konsumsi besar seperti Idulfitri. Selain itu, pemerintah juga perlu memperkuat komunikasi publik
terkait kondisi ekonomi global dan kebijakan yang diambil. Transparansi informasi
menjadi penting agar masyarakat dapat memahami situasi yang terjadi dan tidak
menimbulkan kepanikan di tengah dinamika harga yang sedang berlangsung. Pemantauan terhadap perkembangan harga energi
dan bahan pangan juga harus terus dilakukan secara intensif agar stabilitas
ekonomi masyarakat tetap terjaga selama periode hari raya maupun setelahnya.
Daftar Pustaka
Albert Gustian. 2026. “Dampak Selat Hormuz Terhadap
Harga BBM Dan Ekonomi Nasional Di Tengah Konflik Timur Tengah.”
https://blog.amikom.ac.id/dampak-selat-hormuz-terhadap-harga-bbm-dan-ekonomi-nasional-di-tengah-konflik-timur-tengah/.
Anto Kurniawan. 2026. “Dampak
Berantai Kenaikan Harga BBM Menjelang Lebaran 2026 Jadi Sorotan.”
https://ekbis.sindonews.com/read/1685099/34/dampak-berantai-kenaikan-harga-bbm-menjelang-lebaran-2026-jadi-sorotan-1773050590.
Britannica. 2026. “Strait of
Hormuz.” https://www.britannica.com/place/Strait-of-Hormuz.
Indonesia, CNBC. 2026. “7 Dampak
Terkini Perang Iran Ke Dunia: Harga Minyak-Pembatasan BBM.”
https://www.cnbcindonesia.com/news/20260310102332-4-717586/7-dampak-terkini-perang-iran-ke-dunia-harga-minyak-pembatasan-bbm.
kompas.com. 2026. “Mengapa Harga
Bahan Pokok Cenderung Naik Jelang Lebaran?” https://www.kompas.com/tren/read/2026/03/14/180000665/mengapa-harga-bahan-pokok-cenderung-naik-jelang-lebaran-?page=1.
KONTAN.CO.ID. 2026. “Harga Minyak:
Potensi Melonjak Ke US$ 130, Waspada Konflik Timur Tengah!” https://newssetup.kontan.co.id/news/harga-minyak-potensi-melonjak-ke-us-130-waspada-konflik-timur-tengah#:~:text=Potensi
Lonjakan Harga Hingga US,proyeksi tersebut masih bersifat spekulatif.
Riza Aslam Khaeron. 2026. “Selat
Hormuz Ditutup, Apa Dampaknya Bagi Perekonomian Dunia?”
https://www.metrotvnews.com/read/NLMC82WA-selat-hormuz-ditutup-apa-dampaknya-bagi-perekonomian-dunia.
Komentar
Posting Komentar