Pengkaji:
1. Tasya Zovila
2. Meizy Pricillia
3. Rouli Margareta
Sejarah Ekonomi Argentina
Sejarah ekonomi Argentina
merupakan salah satu yang paling dikaji oleh para ekonom akibat "Paradoks Argentina": Argentina
pernah menjadi negara yang tergolong maju pada awal abad ke-20, tetapi kemudian
mengalami kemunduran dan kini terus menerus mengalami krisis ekonomi. Sebelum
menjadi negara independen, Argentina merupakan bagian dari wilayah Spanyol.
Ekonomi kolonial Argentina didominasi oleh pertanian, khususnya jagung dan
kedelai, yang menjadi komoditas utama yang diangkut ke Spanyol. Pertambangan
emas dan perak juga menjadi sumber daya penting, terutama di wilayah Cuyo.
Setelah menjadi negara independen pada tahun 1816, Argentina mengalami transformasi
ekonomi yang signifikan. Pertama, negara ini mengadopsi ekonomi terbuka, yang
memungkinkan impor dan ekspor barang secara bebas. Namun, kebijakan ini juga
menyebabkan defisit anggaran dan ketergantungan terhadap impor.
Pada abad ke-19,
Argentina mengalami pertumbuhan ekonomi yang signifikan, terutama dalam sektor
pertanian dan peternakan. Namun, ketika harga komoditas mulai turun pada awal
abad ke-20, ekonomi Argentina mengalami krisis. Krisis ini memicu depresi
ekonomi yang parah, yang dikenal sebagai "La Gran Depresión" atau
"La Década Infame". Pada abad ke-20, Argentina mengalami berbagai
krisis ekonomi, termasuk krisis mata uang pada tahun 1990-an dan krisis ekonomi
global pada tahun 2000-an. Krisis-krisis ini menyebabkan inflasi yang tinggi
dan ketidakstabilan ekonomi.
Pada awal dasawarsa
1990-an, pemerintah mencoba mengendalikan inflasi dengan menyamakan nilai 1
peso Argentina dengan 1 dolar Amerika Serikat. Pemerintah juga memutuskan untuk
menjual berbagai badan usaha milik negara dan kemudian menggunakan sebagian dari
hasil penjualan tersebut untuk melunasi utang negara. Namun, resesi ekonomi
menjelang abad ke-21 mengakibatkan kebangkrutan, dan pemerintah kemudian
kembali mendevaluasi peso. Pada tahun 2005, ekonomi Argentina sudah pulih, tetapi
kemudian kembali bangkrut pada tahun 2014. Argentina bangkrut lagi pada 22 Mei
2020 setelah gagal melunasi utang sebesar $500 juta.
Krisis
Ekonomi Argentina
Argentina adalah negara
dengan perekonomian terbesar ketiga di Amerika Latin, setelah Brasil dan
Meksiko, dengan produk domestik bruto (PDB) sebesar $631 miliar pada tahun
2022. Lebih dari separuh PDB Argentina berasal dari sektor jasa, termasuk
pariwisata, dengan industri manufaktur seperti otomotif, farmasi, dan bahan
kimia yang menyumbang 16 persen dari PDB. Agribisnis, yang mendominasi
perekonomian selama sebagian besar abad ke-19 dan ke-20, kini hanya menyumbang
7 persen dari PDB, meskipun masih mendorong sebagian besar ekspor Argentina.
Negara ini juga memiliki cadangan minyak dan gas serpih terbesar di dunia,
meskipun pemerintah semakin gencar memanfaatkan energi terbarukan. Selain itu,
Argentina mencakup sekitar seperlima dari apa yang disebut Segitiga Litium di
Amerika Selatan, yang mengandung sekitar setengah dari deposit litium yang
diketahui di dunia, sebuah elemen penting dalam produksi baterai.
Sebelum krisis, Argentina
mengalami pertumbuhan ekonomi yang didorong oleh kondisi eksternal yang
menguntungkan, seperti tingkat suku bunga global yang rendah dan harga
komoditas yang tinggi. Namun, kombinasi kebijakan pemerintah yang tidak
berkelanjutan, termasuk peningkatan pengeluaran pemerintah dan kebijakan
moneter yang lemah, menyebabkan ekonomi menjadi stagnan sejak 2011 (Sandleris,
2024).
Argentina telah mengalami
krisis ekonomi yang parah, dengan inflasi yang tinggi menjadi salah satu faktor
utama.
Tingkat Inflasi Argentina
Inflasi di Argentina
mencapai 211,4% pada Desember 2023, kemudian
mengalami lonjakan pada Maret 2024 hingga menyentuh angka 287,9% yang menjadikannya negara dengan inflasi
tertinggi di Latin Amerika dalam lebih dari tiga dekade. Inflasi ini diikuti
dengan peningkatan harga konsumen sebesar 25,5% dari bulan sebelumnya, yang
berada di bawah perkiraan ekonomis. Inflasi yang tinggi juga telah mempengaruhi
harga konsumen, dengan harga makanan dan minuman non-alkoholik mencapai
peningkatan rata-rata sebesar 29,7%
pada Desember 2023. Produk konsumsi massal lainnya juga naik sekitar 30%, sementara obat-obatan memiliki
peningkatan rata-rata sebesar 40%.
Krisis ini telah
berdampak buruk pada daya beli masyarakat Argentina. Banyak warga yang terpaksa
mencari makanan di tempat sampah karena harga makanan yang melonjak. Tingkat
kemiskinan melonjak hingga 57,4%
dari 46 juta penduduk Argentina pada bulan Januari, angka tertinggi dalam 20
tahun, menurut sebuah studi yang dilakukan oleh Catholic University of Argentina. Artinya, sekitar 27 juta orang di
Argentina miskin dan 15% dari mereka terperosok dalam “kemiskinan,” yang
berarti mereka tidak dapat memenuhi kebutuhan pangan mereka secara memadai. Untuk
bertahan hidup, akhirnya banyak warga Argentina mulai mengais kontainer sampah
tempat sisa buah dan sayur untuk untuk kemudian dimakan. Mirisnya lagi, banyak
di antara para pengais sampah ini merupakan orang lanjut usia.
“Kami
memiliki beberapa wadah di belakang tempat sampah dibuang dan ketika Anda
membawa sebuah kotak, Anda melihat 20 orang mendatangi Anda untuk melihat apa
yang bisa mereka bawa sebagai sepiring makanan ke meja mereka,” jelas seorang
penjual buah dan sayuran di Buenos Aires Sandra Boluch, Argentina.
Boluch juga menuturkan
bahwa kondisi ini dinilai sulit dan menyedihkan, menimbang banyaknya orang yang
sudah lanjut usia. Dia juga mengatakan bahwa "dompet" orang-orang
sangat menderita. Kemudian, seorang pria
berusia 62 tahun yang sedang mencoba untuk berbelanja di pasar grosir untuk
mendapatkan penawaran, Ines Ambrosini, juga mengatakan bahwa dampak dari harga
makanan sangat parah.
Menurut laporan
terbaru, peningkatan tingkat kemiskinan pada bulan Januari sebagian disebabkan
oleh devaluasi peso Argentina yang
diterapkan oleh pemerintah Milei tidak lama setelah menjabat pada tanggal 10
Desember. Hal ini mengakibatkan kenaikan harga kebutuhan pokok negara tersebut.
Keranjang yang mencakup makanan, jasa dan barang non-makanan dan keranjang
makanan pokok.
Apa
saja faktor yang mempengaruhi terjadinya krisis ekonomi di Argentina?
Bagi masyarakat Argentina
yang telah hidup sejak tahun dimulainya inflasi, tentu angka inflasi yang
tinggi adalah suatu hal yang wajar dan normal. Namun, situasinya menjadi
berbeda lantaran angka inflasinya tidak lagi di dua digit, melainkan mencapai 3
digit. Ada efek yang ditimbulkan tentunya. Masyarakat Argentina banyak yang
menderita. Saat ini, empat dari sepuluh
orang hidup dibawah garis kemiskinan. Selain itu, banyak masyarakat yang
juga tengah mengurus perpindahan kewarganegaraan. Mereka ingin mencari tempat
yang layak dan baik untuk hidup bagi anak cucu nantinya. Kesenjangan ekonomi
dan sosial pun sangat nampak antara yang miskin dan kaya.
·
Defisit Anggaran dan Pembiayaan Eksternal: Argentina telah mengalami defisit anggaran yang
signifikan, yang meningkatkan ketergantungan pada pembiayaan eksternal untuk
mendanai anggarannya. Utang pemerintah Argentina telah mencapai USD400 miliar,
yang mana inflasinya menyentuh angka 287.9%
hingga Maret 2024. Argentina adalah debitur terbesar IMF dengan program senilai
US$ 44 miliar. Pembayaran utang kepada IMF dan kreditor lainnya berjumlah
sekitar US$ 4 miliar hingga Januari 2024.
·
Pengaruh US Federal Reserve (Fed): US Fed mulai menaikkan suku bunga pada akhir 2017,
mengurangi minat investor pada obligasi Argentina. Ini menyebabkan tekanan pada
Peso dan meningkatkan nilai utang dalam Dolar.
·
Bencana Alam Kekeringan: Kekeringan terburuk dalam 50 tahun di Argentina
merusak hasil komoditas yang secaranya mengikis pendapatan ekspor pertanian.
Ini menambah beban pada ekonomi negara Argentina.
·
Suku Bunga Tinggi dan Reformasi Fiskal: Pada April dan Mei 2018, bank sentral dan pemerintah
mengumumkan suku bunga yang lebih tinggi (menjadi 40 persen) dan reformasi
fiskal untuk memotong defisit anggaran. Namun, volatilitas pasar terus berlanjut,
dengan suku bunga menjadi 60 persen pada akhir Agustus 2018, yang merupakan kenaikan
yang tertinggi di dunia.
·
Ketergantungan pada Dolar AS: Kinerja ekspor Argentina terus menurun, sehingga
negara ini kesulitan mengimbangi kebutuhan akan dolar AS yang tinggi. Ini
mempengaruhi pembayaran utang dan impor kebutuhan dalam negeri.
·
Krisis Energi:
Argentina juga menghadapi krisis energi akibat perang Rusia-Ukraina.
Ketidakstabilan politik ini memperparah situasi ekonomi negara Argentina.
Langkah
yang Diambil Pemerintah Argentina
Pemerintah Argentina, di bawah
kepemimpinan Presiden Javier Milei,
telah mengambil langkah-langkah tegas untuk mengatasi masalah inflasi dan
krisis ekonomi yang parah. Berikut adalah beberapa langkah utama yang diambil:
1.
Devaluasi Mata Uang:
Argentina mengumumkan devaluasi tajam dari mata uangnya sebesar 50% sebagai
bagian dari penyesuaian ekonomi yang dilakukan oleh Milei. Meskipun ini dapat
memperburuk situasi dalam beberapa bulan ke depan, pemerintah berharap langkah
ini akan membantu mengatasi masalah ekonomi.
2.
Deregulasi dan Penghematan: Presiden Argentina, Javier Milei, telah mengambil
tindakan keras, termasuk pemotongan belanja negara dan upaya untuk menyederhanakan
program kesejahteraan. Ia juga mempertimbangkan mencabut serangkaian pembatasan
pertukaran mata uang yang dikenal sebagai “cepo”
di Argentina. Pemerintah juga mengurangi pengeluaran publik dan memotong
subsidi untuk sektor-sektor seperti transportasi, bahan bakar, dan energi.
Langkah-langkah ini diambil dengan tujuan untuk mengurangi beban pemerintah dan
meningkatkan stabilitas ekonomi.
3.
Penyesuaian Fiskal: Milei
menargetkan pengurangan pengeluaran pemerintah yang tidak terkontrol dan
berencana untuk menyeimbangkan anggaran negara sebelum akhir tahun 2024 dengan
memotong pengeluaran dan meningkatkan beberapa pajak. Dia juga berencana untuk
meningkatkan bantuan ke masyarakat terkuat untuk membantu mereka menyesuaikan
diri dengan perubahan ekonomi.
4.
Penyesuaian dengan IMF: Pada tahun 2020, Argentina menandatangani perjanjian
pinjaman dengan IMF sebesar $44 miliar, yang merupakan pinjaman terbesar dalam
sejarah bank tersebut. Ini menunjukkan upaya untuk mengurangi defisit dan
meningkatkan stabilitas ekonomi. Argentina berada di bawah Fasilitas Dana
Ekstensif (EFF) dengan IMF selama 30 bulan. Program ini berfokus pada
penyelesaian anggaran yang sehat dengan tujuan mencapai surplus primer 2% dari
GDP pada 2024.
Langkah-langkah ini
mencerminkan upaya pemerintah Argentina untuk mengatasi krisis ekonomi dan
inflasi yang parah. Namun, hasil dari tindakan ini masih harus dilihat, dan
dampaknya terhadap masyarakat masih perlu dipantau dengan hati-hati. Presiden
Milei menyebut akan melakukan penghematan ketat untuk menurunkan inflasi,
caranya dengan mengurangi defisit fiskal dan yang besar dan membangun kembali
kas pemerintah. Namun, dirinya memperingatkan bahwa hal ini akan memakan waktu
yang cukup lama. Bahkan keadaan juga bisa menjadi lebih buruk sebelum menjadi
lebih baik.
Pengaruhnya
Terhadap Indonesia
Krisis Argentina tampaknya
tidak akan mempengaruhi ekonomi Indonesia. Sebab porsi ekspor Argentina yang
dibilang sangat kecil. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) nilai
ekspor Indonesia ke Argentina pada 2023 senilai US$202,35 juta atau Rp3,16
triliun (Rp15.600/US$). Nilai tersebut sebesar 0,08% dari total ekspor
Indonesia.
Source: BPS
Devaluasi ARS sebesar
lebih dari 50% dan inflasi yang sedang berlangsung, secara langsung berdampak
pada nilai peso terhadap mata uang lain, termasuk Rupiah (IDR). Devaluasi ini
membuat ekspor Argentina menjadi lebih murah bagi para importir, sehingga
berpotensi meningkatkan permintaan Indonesia akan barang-barang Argentina, yang
dapat menyebabkan peningkatan tagihan impor Indonesia dan, akibatnya,
menguatnya nilai tukar Rupiah terhadap ARS.
Kemudian juga Presiden
Javier Milei telah mendiskusikan kemungkinan untuk mendenominasikan ekonomi
Argentina, yang akan melibatkan penggunaan dollar AS sebagai mata uang negara.
Jika Argentina bergerak ke arah dollarisasi, hal ini dapat menyebabkan
penurunan yang signifikan pada permintaan ARS, yang berpotensi menyebabkan
devaluasi ARS yang tajam terhadap Rupiah. Namun, skenario ini masih bersifat
spekulatif dan akan tergantung pada berbagai faktor, termasuk keberhasilan
proses demokratisasi dan respon dari pasar keuangan global.
Daftar
Pustaka
Andrianto, R. (2024) ‘Krisis Ekonomi Argentina Makin
Ngeri, Bakal Ngaruh ke Indonesia?’, CNBC
Indonesia. Available
https://www.cnbcindonesia.com/research/20240319152931-128-523333/krisis-ekonomi-argentina-makin-ngeri-bakal-ngaruh-ke-indonesia
(Accessed: 20 April 2024).
Politi, D. (2020) ‘Argentina Tries to Escape Default
as It Misses Bond Payment’, The New York
Times. Available at: https://www.nytimes.com (Accessed: 20 April 2024).
Setiawan, A. and Kartiasih, F. (2021) ‘Contagion
Effect Krisis Argentina dan Turki ke Negara-Negara Asia, Benarkah Terjadi?’, Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Indonesia,
(p-ISSN 1411-5212; e-ISSN 2406-9280).
Yashilva, W. (2024) ‘Argentina Hadapi Ketidakstabilan
Politik Hingga Inflasi Mencapai 276,2%’, GoodStats. Available at:
https://goodstats.id/article/argentina-hadapi-ketidakstabilan-politik-hingga-inflasi-mencapai-250-sjIib
(Accessed: 19 April 2024).
Roy, D. (2024) ‘Argentina’s Struggle for Stability’,
Council on Foreign Relations. Available at:
https://www.cfr.org/backgrounder/argentinas-struggle-stability (Accessed: 20
April 2024).
Trading Economics (2024) ‘Argentina - Tingkat Inflasi
1944-2024 Data | 2025-2026 Perkiraan’, Trading Economics. Available at:
https://id.tradingeconomics.com/argentina/inflation-cpi (Accessed: 20 April
2024).
World Bank (2024) ‘Argentina overview’, The World
Bank. Available at: https://www.worldbank.org/en/country/argentina/overview
(Accessed: 19 April 2024).
Wells, I. (2024) ‘Presiden ‘gila’ Argentina hadapi
inflasi 250% dan ketidakstabilan politik, mengapa banyak yang mendukungnya?’,
BBC News Indonesia. Available at:
https://www.bbc.com/indonesia/articles/c72glzqye5lo (Accessed: 20 April 2024).


Komentar
Posting Komentar