Apa Itu Greenflation dan Bagaimana Cara Mengatasinya?

Pengkaji:

  1. Ebel Vigrajuska Asri
  2. Debyta Yananta Sari

    Istilah greenflation jadi perbincangan yang hangat pasca debat keempat Pilpres 2024 KPU pada 21 Januari lalu. Calon wakil presiden (cawapres) nomor urut 2 Gibran Rakabuming Raka memberikan pertanyaan soal greenflation kepada cawapres nomor urut 3 Mahfud MD.

    Menurut Guru Besar Ilmu Ekonomi Moneter, FEB UI, Telisa Aulia Falianty, greenflation adalah peningkatan harga barang dan jasa atau inflasi sebagai konsekuensi dari peralihan perekonomian menuju model yang lebih ramah lingkungan, yakni perekonomian net-zero.

    Greenflation merupakan singkatan dari "green" atau hijau dan "inflation" atau inflasi. Dilansir dari situs Philonomist, greenflation adalah istilah yang mengacu pada kenaikan harga material dan energi akibat transisi ke energi hijau. Hal ini mengacu pada fenomena di mana peningkatan permintaan akan produk dan layanan ramah lingkungan menyumbang pada kenaikan harga dalam ekonomi. Green Inflation ini terjadi ketika masyarakat semakin sadar akan isu-isu lingkungan dan berusaha untuk mengadopsi gaya hidup yang lebih berkelanjutan. Hal ini tentu akan menyebabkan peningkatan permintaan terhadap produk ramah lingkungan, energi terbarukan, dan layanan yang memperhatikan dampak ekologis.

    Menurut ECB atau Europan Central Bank, kemunculan istilah Greenflation dipicu salah satunya karena harga gas alam di Eropa dua kali lipat lebih mahal dibandingkan harga di awal tahun 2022. Hal ini karena situasi adanya konflik Rusia-Ukraina sehingga harga yang melonjak di tengah meningkatnya ketidakpastian mengenai situasi pasokan, dilansir dari Union Investment.

    Salah satu cabang dari Greenflation adalah Climateflation, Climateflation adalah kenaikan harga yang disebabkan oleh dampak langsung dari perubahan iklim, seperti bencana alam, kerusakan lingkungan, dan gangguan produksi. Climateflation dapat mempengaruhi berbagai sektor, seperti pertanian, industri, dan perdagangan. Sebagai contoh, panen gagal akibat gelombang panas dapat menyebabkan kenaikan harga pangan, atau produksi terhenti akibat badai dapat menyebabkan kenaikan harga barang.

    Meskipun keduanya dapat menjadi tantangan bagi perekonomian, penting untuk diingat bahwa transisi ke perekonomian yang lebih hijau memiliki manfaat jangka panjang yang lebih besar. Perekonomian yang lebih hijau akan lebih tahan terhadap perubahan iklim, memiliki lingkungan yang lebih sehat, dan menciptakan lapangan kerja baru. Oleh karena itu, greenflation dan climateflation dapat dianggap sebagai insentif untuk melakukan transisi hijau yang lebih cepat dan efektif.

Mengapa bisa terjadi Greenflation

  1. Pajak karbon meningkat

    Banyak faktor yang memicu inflasi terjadi selama transisi energi hijau. Pertama, peningkatan biaya pajak karbon. Pajak karbon adalah instrumen kebijakan yang memberikan insentif bagi pelaku ekonomi untuk mengurangi emisi karbon dengan cara menaikkan harga bahan bakar fosil dan produk yang menghasilkan karbon. Pajak karbon diharapkan dapat mendorong penggunaan energi yang lebih efisien dan beralih ke energi terbarukan.

    Namun, pajak karbon juga dapat meningkatkan biaya produksi dan konsumsi, yang berdampak pada inflasi. Harga satu ton CO2 saat ini lebih tinggi sepuluh kali lipat daripada ketika Perjanjian Paris baru ditandatangani, 12 Desember 2015. Badan Moneter Internasional (IMF) pada Juni 2021 menyatakan bahwa pajak karbon global perlu naik menjadi 75 dolar AS per ton pada 2030. Angka itu akan terus meningkat di tahun-tahun berikutnya. Alasannya, emisi karbon dioksida (CO2) dan gas rumah kaca (GRK) harus dikurangi seperempat hingga setengah pada 2030 agar iklim bisa kembali stabil. Emisi CO2 global diproyeksikan bakal meningkat dari 30 miliar ton pada 2020 menjadi 37 miliar pada 2030.

2. Pengurangan bahan bakar fosil

    Bahan bakar fosil adalah sumber energi utama yang digunakan oleh perekonomian dunia saat ini. Namun, bahan bakar fosil juga merupakan penyumbang terbesar emisi gas rumah kaca, yang menyebabkan pemanasan global dan perubahan iklim. Untuk mendorong transisi hijau, pemerintah harus mengurangi subsidi bahan bakar fosil dan memperkenalkan kebijakan yang mengurangi insentif bagi perusahaan untuk menambah produksi baru.

    Ketika perusahaan-perusahaan itu mengurangi investasi dalam eksplorasi dan ekstraksi, ada kemungkinan bahwa pasokan minyak dan gas baru akan menurun lebih cepat daripada permintaan. Kondisi itu menimbulkan tekanan ke atas pada harga. Dampak tersebut akan terjadi karena saat ini perusahaan minyak dan gas besar mulai mengalihkan fokus mereka kepada energi terbarukan, seperti angin, surya, dan hidrogen.

3. Lonjakan permintaan bahan baku energi hijau

    Energi hijau adalah energi yang berasal dari sumber daya alam yang dapat diperbarui, seperti angin, surya, air, dan biomassa. Energi hijau memiliki keunggulan dibandingkan energi fosil, yaitu tidak menghasilkan emisi gas rumah kaca, tidak habis, dan tidak mencemari lingkungan. Namun, energi hijau juga membutuhkan bahan baku yang langka dan mahal, seperti litium, nikel, tembaga, seng, dan tanah jarang.

    Permintaan pasar bakal lebih tinggi terhadap komoditas yang diperlukan untuk transisi hijau. Namun, beberapa mineral tersedia dalam jumlah terbatas. Lonjakan permintaan litium dan nikel, misalnya, akan terjadi akibat peningkatan kebutuhan kendaraan listrik. Begitu juga dengan tembaga yang dibutuhkan untuk kabel kendaraan listrik. Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan permintaan litium bisa melonjak 40 kali lipat selama dua dekade ke depan karena penggunaan baterai meningkat. Di samping itu, investasi pembangkit listrik tenaga angin juga bakal meningkatkan permintaan untuk seng dan tanah jarang. Sejumlah besar tanah jarang diperlukan untuk konstruksi panel fotovoltaik, bersama silikon dan perak.

Implikasi Bagi Bisnis dan Konsumen

    Bagi bisnis, greenflation akan menimbulkan tantangan adaptasi, yaitu kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan standar lingkungan yang lebih tinggi, terutama bagi usaha kecil dan menengah yang memiliki keterbatasan sumber daya. Bisnis harus dapat menyeimbangkan antara tanggung jawab lingkungan dan efektivitas biaya dalam menjalankan operasionalnya. Namun, greenflation juga memberikan peluang inovasi, yaitu kesempatan untuk menciptakan solusi berkelanjutan yang hemat biaya. Bisnis yang dapat menawarkan produk ramah lingkungan dengan harga yang kompetitif dapat memperoleh keunggulan bersaing di pasar.

    Bagi konsumen, greenflation mengharuskan penyesuaian anggaran, yaitu penyesuaian pengeluaran karena kenaikan harga barang dan layanan yang berkaitan dengan produk ramah lingkungan. Konsumen harus mempertimbangkan ketersediaan pilihan yang ramah lingkungan dalam memenuhi kebutuhan mereka. Greenflation juga mendorong pergeseran pola konsumsi, yaitu perubahan preferensi konsumen karena kepedulian terhadap lingkungan. Konsumen cenderung memilih opsi ramah lingkungan atau mencari alternatif yang seimbang antara kekhawatiran kerusakan lingkungan dan ketersediaan finansial.

Alternatif Solusi Greenflation

    Meski berpotensi menimbulkan inflasi, bukan berarti kita harus menghindarinya jika hal tersebut punya alasan yang tepat. Pemerintah perlu mengambil strategi konkret dan langkah mitigasi. Greenpeace menjelaskan salah satu cara mengurangi greenflation yaitu dengan menerapkan Polluter Pays Principle, yakni dana dari pajak karbon dan pajak batu bara digunakan untuk subsidi energi bersih dan terbarukan terutama untuk kalangan ekonomi rendah.

    Di sisi lain, Bill Gates dalam bukunya How to Avoid A Climate Change Disaster dan blog miliknya, mengusung istilah Green Premium (Greenium). Greenium mengidentifikasi selisih harga produk yang menghasilkan emisi karbon dengan produk alternatif yang tidak sehingga ramah lingkungan. Semakin besar Greenium sebuah produk, semakin mahal dan sulit untuk menghilangkan emisi karbonnya. Sebab itu, gol dari Greenium adalah membuatnya sekecil apa pun. Untuk menanganinya, Gates menjelaskan berbagai solusi seperti dibutuhkannya banyak inovasi, kerja sama antara perusahaan dan pemerintah untuk membiayai proyek teknologi atau sistem hijau yang aman, serta penerapan pajak karbon.

 Berikut adalah beberapa hal yang dtindakan yang dapat dilakukan untuk memitigasi risiko inflasi hijau, dirangkum dari Goldman Sachs.

  • ·  Berinvestasi dalam penelitian dan pengembangan teknologi ramah lingkungan: Hal ini akan membantumenurunkan biaya energi terbarukan dan teknologi ramah lingkungan lainnya.

  • ·        Meningkatkan efisiensi energi: Hal ini akan mengurangi permintaan energi, sehingga membantu menstabilkan harga.

  • ·    Memberikan insentif keuangan bagi dunia usaha dan konsumen untuk mengadopsi teknologi ramah lingkungan: Hal ini akan membantu menjadikan transisi menuju perekonomian ramah lingkungan menjadi lebih terjangkau.

            Transisi menuju perekonomian yang lebih ramah lingkungan merupakan tantangan yang kompleks, namun ini adalah tantangan yang harus kita lakukan jika ingin melindungi planet kita untuk generasi mendatang.

Kesimpulan: Mengelola Green Inflation untuk Masa Depan yang Berkelanjutan

    Greenflation adalah tantangan yang harus dihadapi oleh perekonomian dunia dalam melakukan transisi hijau. Namun, tentu tidak semua aspek transisi hijau akan menjadi inflasi. Kebijakan pemerintah dapat membantu mengurangi penumpukan tekanan inflasi, misalnya dengan mengalokasikan pendapatan dari pajak karbon untuk memberikan subsidi kepada masyarakat yang lebih rentan. Langkah ini tentu penting untuk dilakukan mengingat dampak inflasi cenderung menyulitkan masyarakat berekonomi menengah ke bawah karena harga bakal jauh lebih tinggi untuk barang-barang penting.

    Greenflation menciptakan dinamika baru dalam ekonomi global yang semakin berfokus pada keberlanjutan. Pengelolaan dengan bijak melalui kebijakan yang seimbang, inovasi teknologi, dan kolaborasi antara sektor swasta dan pemerintah dapat membantu menciptakan masa depan yang berkelanjutan dan seimbang antara kebutuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan. Dengan perhatian yang lebih besar terhadap praktik berkelanjutan, kita dapat membentuk dunia yang lebih hijau dan ramah lingkungan bagi generasi mendatang.


Referensi

https://kauri.id/greenflation-pengertian-dan-dampaknya/

https://www.beautynesia.id/life/apa-itu-greenflation-yang-sedang-ramai-diomongin-ini-yang-

https://www.goodnewsfromindonesia.id/2024/01/22/apa-itu-greenflation-penyebab-dan-dampaknya-bagi-masyarakat

https://warstek.com/greenflation/perlu-kamu-ketahui/b-285314/3

 

Komentar